Senin, 16 Januari 2017

Berulang Kali


               
                Menonton film yang sama berkali-kali
                Mendengarkan musik yang itu-itu saja berhari-hari
                Bermain game yang sudah berulangkali ditamatkan
                Makan selalu di tempat yang sama, menu yang sama, minuman yang serupa.
                Melalui jalan yang sama tiap pagi
                Membuka lembaran-lembaran buku yang sama berulang kali
                Sekalinya ingin mengetikkan sesuatu, mengurungkannya untuk lain kali


                Nanda kore?      

Sabtu, 07 Januari 2017

Puncak dan Lembah

Puncak dan Lembah

Selain menulis dan membaca, hobiku adalah lihat-lihat tumpukan buku di sebuah toko ataupun event pameran. Berharap barangkali menemukan buku yang menarik dengan harga tidak terlalu mencekik. Kadang di sebuah pameran dengan penataan buku yang ‘agak berantakan’ (ditumpuk-tumpuk doang gitu), aku bisa menemukan buku yang menarik meskipun kadang sudah tidak bersegel ataupun kertas berwarna kuning.

Tapi buku tetaplah sebuah buku bukan? Meskipun dalam kondisi apapun.

Saat itu aku menemukan buku berwarna putih ini. Ia berada di tumpukan antah berantah namun berdempetan dengan judul yang sama. Buku yang sempat kupikir tidak terlalu menggiurkan dan membuatku tertarik.

“Ini berapa?”
“Lima ribu, Mas.”
                “Oh, iya?”

Aku ambil dua-duanya. Meskipun awalnya tidak menarik, tapi mendengar harganya cuma lima ribu aku jadi malahan membeli dua (jangan ditiru ya). Aku beli, bayar, bawa pulang, dan kemudian kutaruh rak buku di kamar begitu saja.

Buku dengan judul Peaks and Valleys.

***

Akhir-akhir ini  suka baca buku yang random, sometimes meskipun tidak terlalu tertarik ketika melihat judulnya, aku akan memaksakan membacanya. Dan saat itu kulihat buku dengan sampul putih hardcover ini.

Saat kubuka kukira akan kujumpai semacam buku teori-teori pada umumnya. Ternyata aku salah, meskipun tulisannya bergenre pengembangan diri, buku tersebut justru berisi sebuah cerita. Cerita tentang seseorang yang sedang bercerita menceritakan perjalanannya tentang puncak dan lembah. Hanya butuh sekitaran dua – tiga jam untuk menghabiskan keseluruhan buku yang berisikan 144 halaman ini.

(Dari tadi kebanyakan intro ya, skip skip).

Buku ini bercerita tentang seseorang yang hidup di lembah, dan merasa ada sesuatu yang salah ketika ia berlama-lama di sana. Sampai suatu hari, ia telah mempersiapkan bekal dan mendaki sebuah bukit untuk berdiri di puncak. Saat itulah ia bertemu dengan Pak Tua di puncak tersebut. Meskipun belum dikenalnya, entah bagaimana ia telah menceritakan kehidupannya yang dirasanya pahit kepada Pak Tua.

“Kau tahu alat untuk membaca detak jantung itu, Nak?” tanya Pak Tua. Pemuda itu mengangguk.

“Garisnya harus ada naik dan turun. Harus ada puncak detak dan turun tidak ada detak. Itu yang menandakan bahwa tubuhmu masih hidup, dan itu pula yang membuatmu merasakan gairah kehidupan.”

“Bisa kau bayangkan kalau garis itu hanya datar lurus saja?”
“Saya mati, dong.”

Pak Tua itu tertawa.
***

Cerita dalam buku Puncak dan Lembah ini dipenuhi dengan sebuah catatan-catatan kecil mengenai kehidupan. Tentang bagaimana kita menandang hidup sebagai Puncak dan Lembah yang saling berkaitan. Puncak bukanlah saat kau berdiri di atas segalanya, tapi melainkan hatimu yang merasa bersyukur meskipun di keadaan paling dasar sekalipun.

Terkadang butuh mengarungi lembah untuk menuju ke puncak yang lebih tinggi. Butuh persiapan agar matang agar ketika berada di puncak kita bisa bertahan lebih lama di sana. Butuh penghayatan lebih mendalam mengapa dan apa yang menyebabkan kita berada di lembah, dan kita melakukan hal yang sebaliknya dengan penyebab tersebut. Sehingga kita akan kembali ke puncak.

Buku yang semula tidak tertarik untuk kubaca, ternyata begitu menarik.

“Ah iya, dont jugde book from cover itu ada benarnya. Apalagi just from the title.”


Jumat, 06 Januari 2017

Extraordinary - Diperkenalkan dengan Bapak Sendiri

Judul Buku     : Extraordinary
Penulis            : Dea Tantyo Iskandar
Penerbit         : Duta Media Tama
Tebal buku     : x + 314
Terbit             : Pertama, Oktober 2016

ISBN                : 9786026016508





Kita sering terkagum-kagum dengan orang hebat yang diwartakan di berita-berita, tapi kita lupa bahwa semenjak kecil ada orang hebat yang selalu menggenggam tangan kita. Ia menyediakan rumah, tanah dan kebebasan untuk kita berkembang melalui perjuangan mereka yang berdarah-darah. Mereka itu adalah orang hebat, dan orang hebat itu adalah bapak kita sendiri.

Begitulah yang ingin disampaikan Dea Tantyo dalam buku seri kedua Leadership Talk berjudul Extraordinary ini. Dea Tantyo ingin memperkenalkan para bapak bangsa kita sendiri yang telah berjuang penuh peluh dan darah untuk menghadiahkan kemerdekaan kepada kita, anak-anak mereka.

Buku yang hadir setelah seri pertama berjudul Leiden ini menyuguhkan dan menghadirkan kembali ke dalam ruang baca kita sosok-sosok dan keteladanan para founding father bangsa. Kita sedang mencari negarawan; pemimpin teladan yang rela merancang peta negara di atas prahara sejarah manusianya. Bukan malaikat. Hanya manusia biasa yang tela menggantungkan cita-cita bangsa di langit pemikirannya. Mungkin gambaran itu bisa kita telusuri dari sini. Dari sejarah perjuangan kemerdekaan. (hlm. 10).

Kita dikenalkan dengan kegigihan dan kepiawaian orasi ala Soekarno, ketenangan dan bagaimana kutu-bukunya seorang Mohammad Hatta, Kecerdasan milik “The Grand Old Man” H. Agus Salim, Kejujuran dari seorang polisi yang tak bisa disuap, Polisi Hoegeng dan solidaritas dari tiga serangkai yang dipenjara lantaran mengkritik Belanda melalui pena tajamnya kala itu.

Buku ini mengajak kita untuk melihat dari sisi positif para pendahulu-pendahulu kita. Bahwa setiap pemimpin punya kekurangan, itu benar. Seorang pemimpin bukan makhluk mitologis bersayap, yang turun dari langit membawa pednag dan menuntaskan semua masalah, lalu terbang kembali menuju langit. Bagaimanapun selalu ada sisi positif yang bisa kita lihat (hlm. 55).

Kita mengerti benar bagaimana setiap pidato Bung Karno begitu bersemangat dan berkobar-kobar. Hal itu tidak didapatkan secara instan seperti merebus mie yang siap unuk dimakan. Soekarno kecil berlatih orasi tiap malam. Memandangi cermin, naik ke atas meja di kosannya hingga teriak-teriak tengah malam, hingga sering kawan dan ibu kostnya merasa terganggu. Mereka terheran-heran dengan teriakan Soekarno tiap malam. Namun hasilnya? Practice makes perfect.

The difference between ordinary and extraordinary is that little “extra” (hlm. 136) dan mereka yang berjuang untuk merebut kemerdekaan telah melakukannya.

Dalam buku ini jelas digambarkan bahwa pemimpin itu bukanlah posisi atau jabatan melainkan pengaruh dan kebermanfaatan. Pemimpin bukanlah mereka yang berada di atas, melainkan berada di tengah-tengah yang dipimpinnya. Ia telah selesai dengan urusannya sendiri, sehingga mampu maksimal untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Para pemimpin jelas dituntut untuk berprestasi sekaligus memberi. Setiap orang bisa berprestasi. Namun tidak semua orang bisa memberi. Karya terbesar bukanlah atas apa yang didapatkan. Melainkan apa yang telah kita berikan (hlm. 156)

Disuguhkan dengan runut dan diselingi sosok-sosok tokoh dunia menjadikan buku ini seperti melihat buku album tokoh-tokoh tanpa harus melalui sketsa rupa.

Extraordinary ini juga bukanlah sebuah kitab suci yang turun dari langit tanpa cela. Seri kedua ini memang disajikan lebih runtut daripada seri pertama yang berjudul Leiden. Namun, bagi yang telah membaca buku Leiden sebelumnya, buku Extraordinary ini beberapa kisah yang dihadirkan sama dengan buku pertama. Seolah-olah Dea Tantyo ingin meminta pembaca mengulang kenangan-kenangan untuk bisa diambil pelajaran dari para Founding Father bangsa.

Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Bung Karno saat berorasi di tengah lautan manusia di Lapangan Ikada. “Sesudah kita merdeka, tidak waktunya lagi untuk berbicara banyak, tapi untuk berbuat banyak” (hlm. 154).