Senin, 09 Oktober 2017

Aku Bukan Mereka


Seingatku, jarang sekali aku membuat sebuah tulisan yang benar-benar ingin saya tuliskan di kepala langsung, tanpa mencari-cari sebuah adegan yang kira-kira tanpa dikatakan dengan gamblang pun maka pesannya bisa tersampaikan lewat cerita yang kukarang tersebut.

Tapi malam ini bukan malam biasa, malam ini berbeda. Entah kenapa hanya hendak bercerita tanpa mengarang, hanya ingin bercerita apa yang ada di kepala.

Malam itu malam Jumat, aku buru-buru ke stasiun ke Pekalongan untuk memenuhi panggilan wawancara perusahaan di Karawang. Yang terpikirkan saat itu, hanya kereta. Bis tak pernah jadi pilihan pertama karena beberapa kali naik bis, perut terasa mual. Bahkan pernah sampai naik bis dari kediri-jogja hanya memejamkan mata, tak berani membuka kelopak karena bis tersebut berasa naik jet di darat. Kecepatan kereta, namun di tengah kota. Ngeri pokoknya.

Nah, kereta Gumarang datang, aku langsung duduk di bangku 17D gerbong 1. Di tempat tersebut sudah ada tiga orang yang menduduki jatah empat kursi berhadap-hadapan. Di sebelah kiriku ada mbak-mbak pakai jaket transcorp pakai masker, di depanku ada dua mas-mas yang sedang menatap layar handphone mereka masing-masing, menurutku mereka berdua juga tidak saling kenal satu sama lain.

Kau tahu kan kalau perjalanan kereta itu bisa jadi memerlukan waktu lama. Lima jam lebih, nah bagian ini yang menjadi kepikiran di sepanjang perjalanan.

“Kok aku tidak bisa mengobrol ya?”

Kalimat tersebut pula yang kukirimkan ke grup nakula.

 “Ya tinggal nanya mau kemana, Jon. Ntar juga pembicarakan bakalan mengalir sendiri.” Yuda membalas chat di grup.

 “Aku juga kadang enggak ngobrol, Jon.” Jawab Ibnu Fajri.

 “Aku yo podo.” Jawab Aqmal. Jujur saja aku tidak menyangka sih Aqmal juga gitu.

Saat itu, aku hening sejenak dan menghembuskan nafas berat. Kemudian kuketikkan lagi alasannya kenapa tiba-tiba nanya tentang mengajak ngobrol teman duduk di kereta kepada grup nakula.

 “Aku itu jujur wae merasa iri kalau baca tulisan-tulisan Yuda, Isti ataupun Putri yang sering dapat sesuatu dari obrolan orang di depan atau sebelah mereka ketika di kereta. Kadang semacam hikmah atau pelajaran dan inspirasi gitu.”

Terus salah satu dari nakula nyeletuk di chat.

 “Kalau Putri wajahnya kayak kamu, Jon. Pasti pada kabur semua.”

Kubaca berulang-ulang, dan hanya dengan mengingatnya saja, membuatku ketawa-tawa sendiri tidak jelas.

Aku membuka kembali handphoneku dan mendengarkan video opening lagu dari anime barakamon. Karena tidak punya headset, kusetel volume rendah dan menempelkan handphone itu ke telinga kiriku.

Aku bukanlah dirimu
Dan kau juga bukan diriku
Karena itulah aku akan menjadi diriku sendiri
Dan kau akan menjadi dirimu sendiri juga
Karena itu kita bertemu dari arah jalan yang berbeda dan bergandengan tangan
Di sana cinta pun bisa terlahir